
Masalah lingkungan dari selokan terbuka grey water telah diatasi dengan Ecotech Garden (EGA) yang merupakan teknologi tepat guna sebagai alternatif untuk mengolah air selokan yang tercemar oleh grey water dengan memanfaatkan proses biologis dari tanaman hias air. EGA diterapkan sejak tahun 2005, dengan cara membelokkan aliran selokan yang tercemar grey water yang ada di depan rumah ke pekarangan dari salah satu rumah di Kompleks Perumahan Bumi Asri Bandung. Unsur hara atau bahan pupuk tanaman (N, P dan K) yang terdapat didalam grey water telah menumbuhkan aneka tanaman hias air yang merupakan media dari EGA, sedangkan unsur pencemar lainnya (COD, Detergent, dsb) dapat berkurang karena diserap akar tanaman. Aplikasi EGA, selain menurunkan unsur pencemar, juga meningkatkan
estetika lingkungan dengan tanaman bunganya yang beraneka ragam. Dengan
kata lain, EGA berperan menjaga kelestarian sumber sumber air, seraya
meningkatkan estetika lingkungan, dan bahkan memberikan tambahan
pendapatan bagi pengelolanya.
# Keunggulan EGA
- Menambah estetika lingkungan permukiman yang nyaman.
- Mengurangi pencemaran sungai, karena zat-zat pencemar seperti BOD, Total-N dan Total-P diserap oleh tanaman.
- Dapat menurunkan bau, dengan indikator dari penurunan kadar Amonia sebesar 50 % (semula 10,50 mg/L turun di outlet EGA menjadi 5,3 mg/L) sedangkan kriteria limbah domestik berbau minimal 6 mg/L (Arnold S.Vernik,1987)
- Tidak memerlukan biaya operasional yang mahal karena pengaliran air kotor menggunakan gaya gravitasi, bukan dengan pompa atau pipa.
- Dapat menambah pendapatan dari penjualan bibit bunga yang dihasilkan, yaitu ±Rp.219.000 per tahun,atau Rp.106.000,-per m2, walau harga cenderung menurun bila ada jenis tanaman hias baru.
- Air sisa olahan dapat digunakan kembali, salah satunya untuk mengairi kolam ikan.
# Kelemahan EGA
- Perlu pemeliharaan ekstra di bagian aliran masuk (inlet), karena teknologi bangunan peninggi air, menjadi tempat berkumpulnya sampah
# Kriteria Desain
Ukuran luas EGA, dapat ditetapkan dengan menggunakan kriteria disain berikut ini:
A = Debit aliran (Q)/BP
Q = debil aliran dalam liter/menit
BP (beban permukaan) = 2.04 liter/menit/m2
Artinya: setiap liter per menit, memerlukan lahan untuk tanaman seluas ½ m2.
Q = debil aliran dalam liter/menit
BP (beban permukaan) = 2.04 liter/menit/m2
Artinya: setiap liter per menit, memerlukan lahan untuk tanaman seluas ½ m2.
# Prinsip Kerja EGA
Pengaliran grey water ke EGA, dilakukan dengan cara memasang bendung di selokan, sehingga air dapat dibelokkan ke EGA.
Sistem EGA tersebut dapat dibangun di halaman rumah, atau taman taman
yang ada di kompleks perumahan atau di bagian atas suatu situ atau
danau alami.
EGA akan menyaring unsur - unsur hara (pupuk) yang terkandung didalam
air , dan unsur bahan pencemar air lainnya. Unsur pupuk
digunakan oleh tanaman untuk bertumbuh, sedangkan unsur pencemar,
disaring oleh akar dan media penahan tanaman.
Air yang keluar dari EGA (sudah disaring secara biologis), dapat
dialirkan kembali ke selokan dibagian hilir bendung, atau dialirkan ke
waduk, dan sumber sumber air lainnya.
Karena bahan cemaran dalam air sudah berkurang, maka kualitas air
yang dikembalikan ke selokan atau ke badan badan air lainnya, sudah
lebih baik dari kualitas air sebelum melalui EGA.
# Spesifikasi EGA Skala Rumah tangga:
1. Profil EGA:
- Berbentuk saluran dengan Lebar 40 cm
- Saluran didisain dengan debit 0,07 liter/detik atau setara dengan 4.2 liter/menit
- Tinggi/kedalaman saluran adalah 45 cm (ambang bebas 7,5 cm,
tinggi air 7,5 cm, lapisan tanah 10 cm dan lapisan kerikil 20 cm)
- Dasar saluran : tanah
2. Tepi saluran ditembok agar tidak longsor dan untuk tujuan kerapihan
# Kinerja EGA Skala Rumah Tangga
Kinerja EGA bisa diketahui dengan membandingkan unsur pencemar di inlet dengan unsur unsur pencemar di outlet system.
# Peluang Replikasi EGA
Ada dua faktor yang memberikan peluang sangat besar untuk
mereplikasikan EGA dalam berbagai bentuk. Pertama, Saat ini hampir semua
grey water masih dibuang ke selokan tanpa
diolah. Hal ini mengakibatkan tingginya tingkat pencemaran sungai sungai
di Indonesia. Selain itu sarana Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)
domestik terpusat yang dapat mengolah grey water dan black water
hanya terbatas pada 11 kota besar, dengan cakupan pelayanan sangat
rendah yaitu sebesar 2,5 juta jiwa, atau baru sekitar 1 % dari total
penduduk Indonesia. Kedua, Indonesia terletak di khatulistiwa yang beriklim tropis,
dimana kondisi ini sangat mendukung pertumbuhan tanaman air, hal ini
berlainan dengan negara yang mengalami empat musim dimana pada musim
dingin ada kendala untuk tumbuhnya tanaman air.
EGA dapat dibangun pada kawasan pemukiman yang telah
terbangun, maupun bersamaan dengan pembangunan suatu kawasan perumahan
baru, atau disekitar (bagian Hulu) sumber sumber air seperti waduk,
embung embung, situ situ, waduk waduk pengendali banjir di daerah
perkotaan.
Apabila pengembang perumahan merancang penerapan EGA, selain dapat
menghasilkan kawasan permukiman yang berwawasan lingkungan, juga
sekaligus menjadi daya tarik tersendiri bagi calon pembeli yang
merupakan salah satu faktor pasar dan daya jual.
Implementasi EGA dapat disesuaikan dengan
ketersediaan lahan pekarangan yang ada, pemilihan jenis tanaman sebagai
media penyerap unsur pencemar tanaman dapat disesuaikan dengan
kebutuhan, misal jenis tanaman obat (jaringao), memiliki nilai ekonomi
pandan (bahan baku kerajinan: topi, tikar, tas, dll), pembungkus nasi
timbel (pisang brazilia), dsb.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar